RAHASIA KESUKSESAN REAL MADRID MUSIM 2016/2017
Bagi para penggemar sepak bola, musim 2016/2017 akan selalu diingat sebagai masa kejayaan luar biasa Real Madrid. Di bawah bimbingan Zinedine Zidane, tim ini dianggap sebagai salah satu yang paling lengkap dan mematikan dalam sejarah sepak bola modern. Mereka berhasil meraih gelar ganda, yaitu juara La Liga dan Liga Champions, dengan gaya permainan yang fleksibel namun tetap mendominasi setiap pertandingan. Lantas, apa rahasia di balik kesuksesan gemilang ini? Mari kita bedah bersama secara sederhana dan mudah dipahami.
1. Fondasi Taktis: Keseimbangan yang Menjadi Kunci
Berbeda dengan pelatih lain yang sering kali memegang teguh satu pola permainan yang sangat kaku, Zidane memiliki pendekatan yang unik. Ia tidak terpaku pada satu aturan ketat, melainkan selalu mengutamakan keseimbangan di dalam lapangan. Inti dari kekuatan permainan Real Madrid saat itu terletak pada tiga pemain tengah legendaris mereka, yang sering disebut sebagai Trio KCM: Toni Kroos, Casemiro, dan Luka Modrić.
- Casemiro bertugas sebagai pelindung pertahanan, layaknya seorang satpam yang sigap memutus serangan lawan sebelum mencapai daerah berbahaya.
- Toni Kroos berperan sebagai pengatur irama permainan. Dengan akurasi umpan yang mencapai hampir 95%, ia mampu mengendalikan jalannya pertandingan sesuai keinginan tim.
- Luka Modrić adalah mesin penggerak yang lincah. Ia mampu membawa bola keluar dari tekanan lawan dan menciptakan peluang dengan gerakannya yang cerdas.
Saat Gareth Bale mengalami cedera dan tidak bisa bermain, Zidane membuat keputusan jenius dengan memasukkan Isco ke posisi penyerang tengah di belakang dua penyerang utama. Perubahan ini mengubah pola permainan menjadi lebih cair, membuat jumlah pemain di lini tengah menjadi lebih banyak, sehingga lawan sulit untuk menekan dan merebut bola dari kaki pemain Real Madrid.
2. Pemanfaatan Pemain Sayap Belakang sebagai Senjata Utama
Jika Anda menonton kembali rekaman pertandingan mereka, Anda akan melihat bahwa serangan mematikan Real Madrid jarang datang dari jalur tengah. Sebaliknya, ancaman paling berbahaya justru datang dari sisi kanan dan kiri lapangan, yang dikendalikan oleh dua pemain sayap belakang terbaik dunia saat itu: Dani Carvajal dan Marcelo.
Zidane memberikan kebebasan penuh kepada kedua pemain ini untuk maju menyerang kapan saja. Karena lini tengah mereka sudah sangat kuat dalam menguasai bola, kedua pemain ini bisa bergerak maju hingga sejajar dengan penyerang. Marcelo, khususnya, tampil luar biasa pada musim itu. Ia tidak hanya bertugas bertahan, tetapi juga sering kali menjadi pengatur serangan dari sisi kiri, seolah-olah ia adalah seorang penyerang yang pandai mengatur permainan.
3. Pengelolaan Tim: Kekuatan dari Kedua Skuad
Salah satu hal yang paling sulit ditiru dari keberhasilan Zidane adalah caranya mengelola seluruh pemain di dalam skuadnya, baik pemain inti maupun pemain cadangan. Ia berhasil menyusun sistem rotasi yang sangat cerdas, sehingga semua pemain merasa dihargai dan tetap siap bermain kapan saja. Bahkan, ia mampu meyakinkan bintang besar seperti Cristiano Ronaldo untuk mau duduk di bangku cadangan sesekali, agar tetap bugar dan tampil maksimal di pertandingan yang sangat penting.
Pemain yang tidak selalu menjadi andalan utama, seperti James Rodriguez, Alvaro Morata, dan Mateo Kovačić, sering diberi kesempatan tampil di pertandingan liga melawan tim yang kekuatannya di bawah mereka. Hasilnya, pemain inti selalu dalam kondisi prima saat menghadapi laga berat di Liga Champions, sementara pemain cadangan tetap menjaga tajamnya permainan dan siap membantu tim kapan pun dibutuhkan.
4. Cara Menerapkan Gaya Main Zidane
Apakah Anda ingin mencoba menerapkan gaya permainan ini, baik saat bermain gim sepak bola maupun saat melatih tim asli? Berikut adalah poin-poin utama yang bisa Anda pelajari:
Dari Segi Taktik
- Miliki satu pemain yang pandai mengatur permainan dari posisi belakang, agar irama permainan selalu terkontrol dengan baik.
- Biarkan pemain bergerak dengan bebas dan tidak terpaku pada posisi tetap. Penyerang boleh bergerak ke sisi lapangan atau mundur sedikit untuk membuka ruang bagi teman yang lain untuk maju menyerang.
- Latihlah umpan silang yang akurat. Real Madrid musim 2016/2017 sangat mematikan dengan cara ini. Umpan tidak boleh sembarangan dilempar, melainkan harus diarahkan dengan tepat ke dalam kotak penalti saat sudah ada banyak pemain yang siap menyambutnya.
Dari Segi Kepemimpinan
Zidane dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang penuh pengertian dan penghargaan kepada setiap pemain:
- Ia tidak terlalu banyak membicarakan taktik rumit di hadapan publik, namun semua pemain sangat menghormatinya karena ia sendiri pernah menjadi pemain hebat dunia. Ia memperlakukan semua pemain, baik bintang besar maupun pemain muda, sebagai rekan sekerja yang setara.
- Ia selalu berpikir secara praktis dan tidak terpaku pada satu pola saja. Jika lawan bermain dengan pertahanan yang rapat, ia akan mengarahkan serangan lewat sisi lapangan. Jika lawan bermain lebih terbuka, ia akan memaksimalkan kreativitas pemain di lini tengah.
Kesimpulan
Keindahan permainan Real Madrid musim 2016/2017 bukan terletak pada berapa kali mereka mengoper bola, melainkan pada keseimbangan dan keserasian antar pemain di lapangan. Mereka tahu persis kapan harus bertahan dengan kokoh, kapan harus melancarkan serangan balik yang cepat, dan kapan harus menguasai permainan dengan operan-operan pendek yang indah.
Seperti kata Cristiano Ronaldo, salah satu pemain kunci saat itu:
"Zidane tidak mengajarkan kami cara bermain sepak bola, dia memberikan kami ketenangan untuk menunjukkan apa yang kami bisa."
Itulah kekuatan terbesar dari tim ini—kecerdasan taktis, kerja sama tim yang solid, dan bimbingan pelatih yang luar biasa, yang menjadikan mereka abadi dalam sejarah sepak bola dunia
MENGAPA REAL MADRID KALAH TELAK DARI TOTTENHAM DI WEMBLEY 2017?
Bicara tentang masa kejayaan Real Madrid di pertengahan tahun 2010-an, rasanya sulit membayangkan tim ini bisa dikalahkan dengan mudah. Namun, pada pertandingan di Wembley tahun 2017, mereka harus menelan pil pahit setelah dikalahkan Tottenham Hotspur dengan skor 3-1. Jika harus memilih satu alasan utama di balik kekalahan tersebut, jawabannya jelas: Real Madrid gagal mengantisipasi taktik cerdik dan permainan agresif yang dirancang oleh pelatih Tottenham kala itu, Mauricio Pochettino. Pochettino berhasil menemukan resep jitu untuk melumpuhkan permainan indah andalan Zinedine Zidane, membuat timnya seolah menjadi "Kryptonite" atau musuh alami bagi sang raja Eropa saat itu. Berikut penjelasan lengkapnya.
Jebakan Taktik "Meniru" Permainan Madrid
Pochettino dikenal sebagai pelatih yang berani dan cerdik. Saat melawan Madrid, ia melakukan langkah yang jarang dilakukan orang lain: meniru kekuatan utama Madrid, yaitu kepadatan di lini tengah. Ia menggunakan formasi yang sangat fleksibel, seperti 3-5-1-1 atau 3-4-2-1. Dengan menempatkan tiga orang di posisi bek tengah, ia berhasil menutup rapat ruang gerak dua penyerang mematikan Madrid, Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema.
Bukan hanya itu, Pochettino juga menerapkan strategi pengawalan ketat secara individu. Pemain mudanya kala itu, Harry Winks, diberi tugas khusus untuk terus membayangi Luka Modrić ke mana pun gelandang andalan Madrid itu bergerak. Ketika Modrić yang menjadi jantung permainan Madrid berhasil "diamkan", maka aliran bola ke sisi kanan dan kiri—tempat Dani Carvajal dan Marcelo biasanya mengancam pertahanan lawan—menjadi terputus total. Tanpa umpan-umpan cerdas dari Modrić, serangan Madrid menjadi tumpul dan tidak berbahaya.
Mengeksploitasi Celah di Belakang Pemain Sayap Belakang
Gaya permainan indah yang diusung Zidane memang sangat menyenangkan untuk ditonton, namun memiliki satu kelemahan fatal: garis pertahanan yang maju terlalu jauh dan pemain sayap belakang yang sering kali ikut maju menyerang hingga ke depan. Pochettino menyadari celah ini dengan sangat baik dan memanfaatkannya sepenuhnya.
Ia tahu betul bahwa Marcelo dan Carvajal pasti akan terus naik hingga masuk ke area pertahanan Tottenham. Karena itu, ia memerintahkan Christian Eriksen dan Dele Alli untuk selalu siap berlari ke ruang kosong yang ditinggalkan kedua bek Madrid itu. Begitu bola berhasil direbut oleh pemain Tottenham, mereka langsung mengoperkan bola jauh ke depan dengan sangat cepat. Hasilnya? Gol-gol yang dicetak Tottenham di Wembley lahir dari serangan balik kilat yang memanfaatkan keterlambatan pemain belakang Madrid untuk kembali ke posisi semula. Madrid yang biasanya mendominasi, kali ini justru terlihat kewalahan menghadapi kecepatan serangan lawan.
Sikap Terlalu Percaya Diri yang Menjadi Bumerang
Faktor lain yang tak kalah penting adalah sikap Madrid itu sendiri. Sebagai juara bertahan Liga Champions dua kali berturut-turut, mereka tampak terlalu percaya diri dan meremehkan kekuatan lawan. Mereka bermain dengan tempo yang lambat, seolah yakin bahwa kualitas individu para bintangnya saja sudah cukup untuk memenangkan pertandingan di akhir laga.
Namun, Tottenham bermain dengan intensitas yang luar biasa tinggi, jauh di atas apa yang biasa dihadapi Madrid di liga dalam negerinya. Dengan cara menekan lawan secara ketat di seluruh area lapangan, pemain Tottenham membuat para pemain Madrid tidak memiliki waktu sedetik pun untuk bernapas atau mengatur permainan. Madrid tampak terkejut dan bingung karena bola terus-menerus direbut, dan mereka tidak pernah menemukan ritme permainan seperti biasanya.
Kesimpulan
Kekalahan ini membuktikan bahwa Madrid sebenarnya tidak kalah dalam hal kualitas pemain. Mereka gagal karena terlambat mengantisipasi perubahan permainan lawan dan terlalu setia pada gaya mainnya sendiri saat itu. Di sisi lain, Tottenham tidak berusaha bermain lebih indah dari Madrid; mereka hanya bermain dengan cara yang lebih cepat, lebih bertenaga, dan lebih disiplin dalam menjaga posisi
CARA POCHETTINO MELUMPUHKAN REAL MADRID: ANALISIS TEKNIS DAN CARA MENIRUNYA
Kemenangan Tottenham Hotspur atas Real Madrid dengan skor 3-1 di Wembley pada tahun 2017 bukan sekadar hasil keberuntungan semata. Di balik kemenangan itu terdapat rencana matang yang disusun oleh Mauricio Pochettino, yang mampu membaca dengan tepat kelebihan dan kelemahan tim raksasa Spanyol tersebut. Berikut adalah uraian lengkap mengenai bagaimana ia meramu strategi ampuh itu, serta bagaimana Anda bisa menerapkannya untuk melawan tim yang lebih unggul kualitasnya.
Tiga Pilar Utama Strategi Anti-Madrid Ala Pochettino
Jika Anda ingin meniru kesuksesan Pochettino dalam menaklukkan tim sekuat Real Madrid, ada tiga hal pokok yang harus dipegang teguh. Ketiga elemen ini saling berkaitan dan bekerja sama untuk melumpuhkan ritme permainan lawan:
Sistem Cermin: Pertahanan Padat dengan Tiga Belakang
Pilar pertama adalah penggunaan formasi yang sangat fleksibel, yaitu 3-5-2 yang bisa berubah menjadi 5-3-2 saat bertahan. Strategi ini dirancang khusus untuk memastikan penyerang andalan Madrid, seperti Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema, selalu berada dalam posisi yang kurang menguntungkan atau kalah jumlah pemain.
Dengan menempatkan tiga orang sebagai bek tengah, ruang gerak di area berbahaya menjadi sangat sempit bagi penyerang lawan. Selain itu, kedua pemain sayap belakang ditugaskan untuk turun mundur sejajar dengan barisan pertahanan saat kehilangan bola. Langkah ini bertujuan untuk menutup rapat jalur masuk yang biasa dipakai oleh Dani Carvajal dan Marcelo untuk maju menyerang. Akibatnya, senjata utama Madrid yang biasanya datang dari sisi lapangan menjadi tidak berfungsi sama sekali.
Serangan Langsung: Tidak Perlu Adu Kuat Menguasai Bola
Pochettino menyadari satu hal penting: Anda tidak akan pernah bisa mengalahkan Madrid jika mencoba menguasai bola sepanjang pertandingan. Dengan kualitas pemain seperti Toni Kroos dan Luka Modrić yang sangat cerdik mengatur tempo, adu penguasaan bola hanya akan membuat tim Anda semakin tertekan dan lelah.
Karena itu, ia menerapkan prinsip serangan yang sangat langsung dan tajam. Begitu bola berhasil direbut dari kaki lawan, pemain Spurs tidak membuang waktu untuk mengoper-ngoper bola di wilayah sendiri. Sebaliknya, bola langsung dikirim meluncur ke depan, tepat menuju ruang kosong yang ditinggalkan oleh para bek sayap Madrid yang sudah maju terlalu jauh ke depan. Kecepatan transisi dari bertahan ke menyerang inilah yang membuat pertahanan Madrid terus diteror sepanjang laga.
Tekanan Terarah: Menekan di Waktu dan Tempat yang Tepat
Banyak tim mencoba menekan lawan di seluruh lapangan namun akhirnya kehabisan tenaga atau terbuka pertahanannya. Pochettino melakukan hal yang berbeda: ia menerapkan tekanan yang memiliki sasaran jelas atau yang disebut dengan istilah trigger pressing.
Di laga Wembley, instruksinya sangat spesifik: biarkan Casemiro memegang bola, karena perannya lebih banyak sebagai pelindung pertahanan dan bukan pengatur serangan utama. Namun, begitu bola dipindahkan ke arah Kroos atau Modrić, para pemain Spurs langsung menutup ruang gerak kedua gelandang itu dengan sangat agresif dan cepat. Strategi ini berhasil memutus aliran bola dari akarnya, sehingga Madrid kehilangan kemampuan untuk membangun serangan dengan tenang.
Asal Usul Gagasan: Mengambil Pelajaran dan Menyempurnakannya
Seringkali orang mengira Pochettino menemukan strategi ini dari nol, padahal kenyataannya tidak demikian. Sebenarnya, gagasan utama untuk mengalahkan Madrid sudah pernah dicoba oleh beberapa tim di Liga Spanyol, seperti Girona dan Real Betis, sebelum pertandingan di Wembley itu. Kedua tim tersebut telah menunjukkan bahwa Madrid mengalami kesulitan saat berhadapan dengan lawan yang memasang benteng pertahanan rapat di bagian tengah lapangan.
Namun, tim-tim itu gagal mengubah peluang menjadi kemenangan karena dua hal: mereka terlambat menyadari celah tersebut atau tidak memiliki kualitas pemain untuk melancarkan serangan balik yang mematikan. Di sinilah letak kehebatan Pochettino. Ia adalah sosok yang pandai mengoptimalkan gagasan orang lain dan menyempurnakannya hingga menjadi senjata yang sangat tajam. Berikut adalah cara ia mengembangkannya:
1. Ia menyadari bahwa kuncinya adalah membuat para pengatur irama permainan Madrid merasa tidak nyaman dan terus diawasi ketat.
2. Ia menggabungkan dua konsep permainan hebat: gaya sepak bola berintensitas tinggi ala Jurgen Klopp dengan struktur pertahanan kokoh khas tim-tim Italia yang menggunakan tiga bek belakang.
3. Ia memanfaatkan kualitas pemain yang dimilikinya saat itu: Harry Kane yang tangguh dan andal menahan bola di depan, serta Dele Alli yang memiliki naluri tajam untuk berlari masuk ke ruang kosong di belakang barisan tengah lawan.
Singkatnya, Pochettino bukanlah sekadar penemu, melainkan pengolah ide yang ulung. Ia melihat pola kesalahan yang dilakukan tim lain saat menghadapi Madrid, lalu memperbaikinya dengan manajemen pemain dan tingkat kedisiplinan yang jauh lebih tinggi.
Namun, ada satu hal yang harus diingat jika ingin menerapkan taktik ini: tantangan terbesarnya ada pada stamina pemain. Gaya permainan seperti ini menuntut pemain berlari sekitar 10 hingga 15 persen lebih banyak dibandingkan biasanya demi menutup setiap celah yang terbuka. Tanpa kebugaran fisik yang prima, strategi ini sulit untuk dijalankan dengan sukses hingga peluit akhir berbunyi
SISI TERANG DAN GELAP KEPEMIMPINAN ZIDANE DI REAL MADRID
Perjalanan Zinedine Zidane sebagai pelatih Real Madrid penuh dengan kisah yang menarik. Ada momen di mana ia tampak tak tersentuh dan seolah memiliki jawaban atas segala tantangan, namun ada pula saat di mana ia terlihat buntu dan tidak memiliki solusi. Dua pertandingan besar ini—Final Liga Champions 2017 melawan Juventus dan laga melawan Tottenham Hotspur di Wembley—menjadi bukti nyata dari dua wajah kepemimpinannya tersebut. Berikut adalah ulasan mendalamnya.
Ketika Zidane Menjadi Sang Ahli Strategi: Mengapa Juventus Runtuh di Babak Kedua?
Di babak pertama Final Liga Champions 2017, Juventus tampil sangat mengesankan. Mereka mampu menahan gempuran Madrid dan kedudukan berakhir imbang 1-1 saat turun ke ruang ganti. Pertahanan yang dibentuk oleh Barzagli, Bonucci, dan Chiellini—trio bek tengah legendaris kala itu—sangat kokoh dan berhasil mematikan jalur serangan dari bagian tengah lapangan. Namun, suasana berubah drastis di babak kedua. Madrid tampil sebagai tim yang benar-benar berbeda dan akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor meyakinkan. Ada tiga alasan utama di balik perubahan dramatis ini.
Pertama, Zidane dengan cerdik mengubah arah serangan timnya. Ia menyadari bahwa menerobos lewat tengah adalah hal yang mustahil menghadapi pertahanan rapat Juve. Karena itu, ia memerintahkan para pemainnya untuk mengalihkan fokus serangan ke sisi kanan dan kiri lapangan secara habis-habisan. Langkah ini memaksa dua pemain sayap Juve, yaitu Mario Mandžukić dan Dani Alves, harus terus mundur jauh ke belakang untuk bertahan. Akibatnya, Juve kehilangan tenaga penyerang dan tidak lagi mampu melancarkan serangan balik yang berbahaya seperti di babak pertama.
Kedua, ada faktor kelelahan fisik dan mental dari pihak Juventus. Di babak pertama, mereka bermain dengan energi yang sangat besar dan menekan lawan sekuat tenaga. Namun, Madrid dengan cerdik memanfaatkan kualitas Toni Kroos dan Luka Modrić untuk terus memutar bola dari sisi ke sisi. Gerakan ini membuat para pemain Juve harus terus berlari mengejar bola hingga kelelahan. Ketika Casemiro mencetak gol yang mengubah kedudukan menjadi 2-1, mental tim Juve seketika runtuh. Mereka sadar bahwa tenaga mereka sudah habis dan tidak ada harapan untuk mengejar ketertinggalan.
Ketiga, ada sentuhan ajaib Zidane di ruang ganti. Kabarnya, instruksi yang disampaikannya kepada para pemain saat jeda pertandingan sangatlah sederhana namun berdampak besar. Ia hanya berkata, "Tetap tenang, percepat aliran bola, dan jangan biarkan mereka bernapas." Pesan ini berhasil membakar semangat para pemainnya untuk tampil lebih berani dan percaya diri. Di sisi lain, pelatih Massimiliano Allegri terlambat melakukan pergantian pemain untuk menyegarkan kondisi timnya, sehingga Juve semakin sulit menahan laju Madrid.
Ketika Zidane Kebingungan: Apakah Ia Menemukan Solusi Atasi Taktik Tottenham?
Berbeda dengan kejeniusannya saat melawan Juve, laga melawan Tottenham Hotspur di Wembley menjadi salah satu malam kelam bagi Zidane. Jika harus menjawab dengan jujur, maka kesimpulannya adalah: Zidane sama sekali tidak menemukan cara untuk mengatasi taktik cerdik Mauricio Pochettino pada pertandingan itu.
Hingga peluit akhir dibunyikan dengan skor akhir 3-1 untuk kemenangan Spurs, Madrid tetap bermain dengan pola yang sama persis: terus-menerus mengirim umpan silang ke dalam kotak penalti. Padahal, strategi ini sangat mudah dibaca dan dihadang oleh tiga bek tengah Tottenham yang bermain dengan disiplin tinggi. Zidane yang biasanya sangat pandai melakukan perubahan taktik untuk membalikkan keadaan, kali ini tampak benar-benar buntu. Ia memasukkan Marco Asensio dan Lucas Vázquez di menit-menit akhir, namun pergantian ini hanya berupa penggantian pemain dengan peran yang sama, bukan perubahan struktur permainan yang bisa merusak sistem pertahanan lawan. Malam itu, Pochettino benar-benar menang telak dalam hal strategi, dan Zidane tak memiliki jawaban apa pun.
Meski begitu, kekalahan ini ternyata menjadi berkah tersembunyi bagi Real Madrid. Sejak saat itu, Zidane mulai sadar bahwa timnya butuh variasi permainan baru agar tidak mudah dibaca lawan. Pembelajaran berharga inilah yang kemudian menjadi bekal penting saat mereka kembali menjuarai Liga Champions untuk ketiga kalinya secara beruntun di Kiev pada tahun 2018.
Seandainya Zidane berani melakukan perubahan taktik lebih awal di babak kedua saat melawan Spurs
JUVENTUS VS TOTTENHAM: PERBEDAAN CARA MELAWAN MADRID 2017
Jika harus memilih satu fakta yang paling tepat menggambarkan kondisi Juventus di Final Liga Champions 2017 dibandingkan dengan Tottenham Hotspur, jawabannya jelas: Juventus sebenarnya sudah tahu resep ampuh untuk meredam permainan Real Madrid dan berhasil melakukannya di babak pertama. Namun, mereka tidak menyadari bahwa stamina dan fokus mereka memiliki batas yang bisa dieksploitasi oleh lawan. Berikut penjelasannya secara sederhana.
Perbedaan Cara Bertahan
Meskipun kedua tim sama-sama bermain bertahan, gaya yang mereka gunakan sangat berbeda. Tottenham asuhan Mauricio Pochettino bertahan dengan cara yang aktif dan berbahaya: mereka sengaja memberi ruang bagi Madrid untuk maju, lalu tiba-tiba menyerang balik dengan cepat menuju area kosong yang ditinggalkan bek sayap lawan. Sebaliknya, Juventus di bawah Massimiliano Allegri memilih cara yang lebih tradisional: mereka membentuk benteng pertahanan yang sangat rapat dan berusaha menutup semua celah di sekitar daerah berbahaya. Cara ini ternyata berhasil sempurna di babak pertama, dengan kedudukan imbang 1-1.
Mengapa Juve Tidak Bisa Seberhasil Spurs?
Juventus sebenarnya memiliki kualitas yang cukup untuk memenangkan pertandingan, namun mereka terjebak dalam pola pikir pertahanan khas tim Italia yang terlalu berhati-hati. Setelah menyamakan kedudukan menjadi 1-1, mereka mencoba bermain aman dan hanya menunggu giliran lawan, tanpa berani menekan kembali sekuat yang dilakukan Tottenham.
Kesalahan fatal itu terbukti saat Casemiro mencetak gol kedua untuk Madrid. Gol itu datang dari tendangan jarak jauh yang arahnya berubah dan sulit dijangkau kiper, bisa dibilang agak beruntung. Namun, momen ini justru menjadi titik balik pertandingan. Setelah tertinggal, Juve terpaksa harus keluar dari bentengnya dan mulai menyerang untuk mengejar ketertinggalan. Padahal, inilah situasi yang paling disukai Madrid—mereka adalah ahli dalam serangan balik cepat. Begitu pertahanan Juve terbuka, Madrid dengan mudah mencetak gol tambahan dan memastikan kemenangan.
Beban Berat di Pundak Juve
Ada pula faktor mental yang membedakan keduanya. Tottenham bermain di fase grup tanpa tekanan berlebih, sementara Juventus harus menghadapi beban berat berupa harapan tinggi dan sejarah panjang mereka yang kerap gagal di partai final. Juve sebenarnya sadar bahwa Madrid akan berusaha mendominasi di babak kedua, namun mereka terlambat menyadari satu hal penting: mereka butuh mencetak gol kedua secepat mungkin untuk mematahkan kepercayaan diri lawan.
Alih-alih melakukannya, mereka justru membiarkan Toni Kroos dan Luka Modrić menguasai bola dalam waktu lama tanpa gangguan berarti. Padahal, membiarkan dua pengatur serangan ulung itu bermain dengan tenang sama saja dengan perlahan membunuh peluang diri sendiri.
Singkatnya, Juventus tahu cara meredam Madrid, tetapi mereka tidak punya keberanian untuk membalas tekanan seagresif Tottenham. Mereka terlalu percaya pada ketangguhan pertahanan legendaris mereka, namun lupa bahwa Madrid musim 2017 adalah tim yang bisa mencetak gol dari situasi apa pun—mulai dari umpan silang, tendangan jarak jauh, hingga bola mati.
Juve kalah karena mereka memilih bertahan menghadapi badai, sedangkan Spurs justru menang karena berani menantang badai itu dengan kecepatan tinggi